Pilar Pertanian

Berita Pertanian Aktual

03 February 2022

Terapkan Program Kementan IP 400, Produksi Padi di Kota Bandung Diproyeksikan Meningkat Pesat

Terapkan Program Kementan IP 400, Produksi Padi di Kota Bandung Diproyeksikan Meningkat Pesat
Kegiatan Tanam Padi dengan Indeks Pertanaman (IP) 400 di Lahan Persawahan Kelurahan Derwati, Kecamatan Rancasari, Bandung, Jawa Barat.
03 February 2022

Terapkan Program Kementan IP 400, Produksi Padi di Kota Bandung Diproyeksikan Meningkat Pesat

Pilarpertanian - Pemerintah Kota Bandung mulai menggalakkan Indeks Pertanaman (IP) 400 pada 70 ha lahan persawahan di Kelurahan Derwati, Kecamatan Rancasari, Bandung. Diharapkan dengan penerapan IP 400 tersebut, hasil produksi padi di Kota Bandung bisa meningkat 100 persen. IP 400 adalah program inisiasi Kementerian Pertanian di bawah kepemimpinan Syahrul Yasin Limpo sebagai langkah melipatgandakan produksi beras untuk memenuhi kebutuhan pangan nasional.

Persemaian yang dilakukan pada hari Rabu (2/2) ini sebagai langkah pemerintah provinsi Kota Bandung supaya bisa penuhi target produksi padi. Pelaksana Tugas (Plt) Wali Kota Bandung, Yana Mulyana berharap dengan IP 400 ini, Kota Bandung juga bisa memenuhi kebutuhan pangan masyarakatnya yang saat ini mayoritas berasal dari luar daerah. “Kebutuhan pangan Kota Bandung itu 96,47 persen berasal dari daerah lain. Semoga dengan rekayasa teknologi ini, 767 ha lahan persawahan yang kita punya bisa dioptimalkan. Menurutnya, banyak keuntungan yang bisa diperoleh jika IP 400 ini bisa berjalan dengan lancar.

Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Bandung, Gin Gin Ginanjar mengungkapkan, dengan IP 400 ini, para petani bisa panen empat kali dalam setahun. “Biasanya Kota Bandung tanam dan panen itu dua kali dalam setahun. Dari 767 ha lahan persawahan yang tersedia, kita baru berani memulai IP 400 di 70 ha,” ungkap Gin Gin. Menurut Gin Gin, keputusan ini diterapkan dengan melihat dari kondisi Kota Bandung yang belum bisa menyediakan lahan pertanian ideal. “Kita memiliki beberapa kendala terkait dengan pertanian yang ideal, salah satunya adalah kualitas air irigasi. Mudah-mudahan dengan contoh tahun ini kita memulai di 70 ha di Rancasari yang dikelola oleh lima kelompok tani, bisa menginspirasi kelompok tani lainnya,” imbuhnya.

Menurut Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Jabar, Kusnadi, Kota Bandung merupakan kota pertama di Jawa Barat (Jabar) yang melaksanakan IP 400. Jika melihat data dari Badan Pusat Statistik (BPS), ketersediaan beras di Jabar per kapita per tahun bisa mengalami defisit. Pada 2021, berdasarkan data KSA, produksi padi di Jabar sudah mencapai 9,3 juta ton. Jika dikonversikan ke beras, maka mencapai 5,5 juta ton. “Kalau kita pakai perhitungan dari Susenas (Survei Sosial Ekonomi Nasional) kebutuhan per kapita per tahun beras kita ada di posisi 4,5 juta ton. Kita masih surplus karena berada di 5,5 juta ton. Namun, jika menggunakan perhitungan BPS, kebutuhan per kapita per tahun beras Jabar adalah 6,5 juta. Artinya Jabar minus atau defisit,” paparnya.

Maka, Kusnadi berharap, dengan terobosan IP 400 ini, Kota Bandung bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya. Pun dengan Jabar, bisa berkontribusi terhadap capaian produksi nasional. “Karena dari angka 9,3 juta ton padi yang kita hasilkan, Jabar telah memberikan kontribusi sebesar 16,53 persen untuk pangan nasional. Dengan kondisi ini, Jabar menempati posisi ketiga dari produksi padi,” tutur Kusnadi.

Kusnadi juga berharap, dengan diawalinya IP 400 ini di Kota Bandung, bisa memberikan motivasi untuk kota dan kabupaten lainnya di Jabar. “Kita targetkan 20.000 ha lahan persawahan di Jabar untuk menerapkan IP 400. Mungkin sekitar tiga bulan lagi, padi di Rancasari ini bisa kita panen bersama dan hasilnya lebih baik lagi,” ujarnya.

Kementerian Pertanian melalui Ditjen Tanaman Pangan saat ini memang mendorong pengembangan budi daya pangan IP 400 melalui program OPIP (Optimalisasi Peningkatan Indeks Pertanian). Dengan program ini, diharapkan petani dapat menanam dan memanen padi dan palawija sampai empat kali dalam setahun pada hamparan yang sama.

Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Suwandi menyampaikan, IP 400 merupakan solusi dari berkurangnya areal lahan karena alih fungsi lahan serta pertambahan penduduk. Kunci IP 400 itu menggunakan benih berumur pendek, semai di luar bisa dengan sistem culik, dapog, atau tray, kemudian mekanisasi pertanian supaya hemat waktu dan tenaga. Dan perlu dipastikan lahan yang teraliri air sepanjang waktu serta bukan daerah endemis OPT.

Terkait keraguan benih untuk IP 400, Suwandi menegaskan IP 400 tidak semata-mata dengan benih yang sangat genjah. Seperti di Sukoharjo petani memakai benih Inpari 32. Sebenarnya masih ada cara lain untuk mengoptimalkan pertanaman yaitu dengan semai culik/dapog/tray, dimana semai dilakukan diluar areal sebelum panen.

“Jadi setelah panen bisa segera lakukan percepatan tanam. Selain itu juga bisa melalui penerapan mekanisasi baik saat olah lahan, tanam maupun panen, sehingga bisa mengoptimalkan waktu tanam,” tandasnya.(ND)

Redaksi dan Informasi pemasangan iklan

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *