Pilar Pertanian

Berita Pertanian Aktual

24 June 2026

Antusiasme Temu Teknologi Kelapa di PENAS XVII Gorontalo, Bahas Budidaya hingga Hilirisasi

Antusiasme Temu Teknologi Kelapa di PENAS XVII Gorontalo, Bahas Budidaya hingga Hilirisasi
Pemateri tengah memaparkan tentang strategi pengembangan komoditas kelapa dari hulu hingga hilir dalam acara Temu Teknologi Kelapa dalam rangkaian acara PENAS XVII. (Foto:ist)
24 June 2026

Antusiasme Temu Teknologi Kelapa di PENAS XVII Gorontalo, Bahas Budidaya hingga Hilirisasi

Pilarpertanian - Gorontalo; Temu Teknologi Kelapa di PENAS XVII Gorontalo disambut antusias, mengulas budidaya, inovasi teknologi, hingga strategi hilirisasi untuk mendorong nilai tambah komoditas kelapa.

Rangkaian kegiatan Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan XVII di Gorontalo tak hanya menghadirkan gelar teknologi dan pameran produk unggulan dari berbagai daerah.

Ajang nasional ini juga menjadi wadah peningkatan kapasitas sumber daya manusia pertanian melalui berbagai forum diskusi, pertemuan, dan temu teknologi.

Salah satu kegiatan yang menarik perhatian peserta pada hari ketiga pelaksanaan PENAS XVII, Rabu (23/6/2026), adalah Temu Teknologi Kelapa.

Kegiatan ini diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Perkebunan bersama BRMP Perkebunan Kementerian Pertanian dengan mengangkat pengembangan komoditas kelapa dari hulu hingga hilir, mulai dari budidaya, perbenihan, hingga hilirisasi produk.

Temu Teknologi Kelapa disambut antusias peserta. Sekitar 160 orang yang terdiri dari petani, penyuluh pertanian, pelaku usaha, akademisi, dan kontingen dari berbagai daerah tampak memadati forum tersebut.

Suasana kegiatan berlangsung interaktif. Peserta tak hanya menyimak paparan narasumber, tetapi juga aktif bertanya dan berdiskusi soal persoalan yang mereka hadapi di lapangan.

Forum ini dimoderatori oleh Penyuluh Pertanian BRMP Perkebunan, R. Dani Medionovianto. Dalam pengantarnya, Dani mengajak peserta memanfaatkan forum tersebut sebagai ruang berbagi pengetahuan yang bisa diterapkan langsung untuk pengembangan usaha tani kelapa di daerah masing-masing.

“Kegiatan seperti ini diharapkan bisa menjadi sarana berbagi ilmu dan pengalaman. Pengetahuan yang didapat hari ini mudah-mudahan bisa diterapkan untuk pengembangan usaha tani kelapa di daerah masing-masing,” ujar Dani dalam pengantarnya.

Materi pertama yang mendapat perhatian besar dari peserta adalah Budidaya dan Pemeliharaan Tanaman Kelapa yang disampaikan oleh Yulianus R. Matana.

Dalam paparannya, Yulianus menjelaskan berbagai aspek penting dalam pengelolaan kebun kelapa, mulai dari pemilihan benih unggul, teknik penanaman, pemeliharaan tanaman, hingga strategi meningkatkan produktivitas secara berkelanjutan.

Menurut dia, budidaya kelapa tidak bisa dilakukan secara asal. Produktivitas tanaman sangat bergantung pada kualitas bahan tanam, perawatan kebun, dan konsistensi pemeliharaan. Karena itu, penguatan di sektor hulu dinilai menjadi fondasi penting untuk meningkatkan hasil panen petani.

“Produktivitas kelapa sangat dipengaruhi kualitas benih dan teknik pemeliharaan tanaman. Jika budidaya dilakukan dengan baik sejak awal, maka hasil yang diperoleh petani juga akan lebih optimal,” kata Yulianus dalam paparannya.

Peserta Temu Teknologi Kelapa masih Terlihat bersemangat dalam sesi foto bersama usai acara diskusi

Tak hanya membahas budidaya, Temu Teknologi Kelapa juga menyoroti pentingnya hilirisasi komoditas kelapa. Materi ini disampaikan oleh Dr. Patrik M. Pasang, yang menjelaskan bahwa kelapa memiliki potensi ekonomi besar jika tidak hanya dijual dalam bentuk bahan mentah, tetapi juga diolah menjadi produk turunan yang memiliki nilai tambah lebih tinggi.

Dalam paparannya, Patrik memperkenalkan sejumlah peluang usaha berbasis kelapa, mulai dari produk pangan, minyak kelapa, virgin coconut oil (VCO), hingga berbagai produk hilirisasi lain yang memiliki prospek pasar menjanjikan.

Menurut dia, hilirisasi menjadi salah satu jalan penting untuk meningkatkan pendapatan petani dan memperkuat daya saing komoditas perkebunan.

“Kelapa tidak seharusnya berhenti sebagai komoditas bahan baku. Ada banyak peluang nilai tambah yang bisa diciptakan melalui pengolahan produk turunan. Di situlah hilirisasi menjadi penting agar petani juga bisa menikmati manfaat ekonomi yang lebih besar,” ujar Patrik.

Paparan soal hilirisasi itu pun memantik antusiasme peserta. Banyak di antara mereka yang menanyakan peluang pengembangan usaha, pemasaran produk olahan, hingga strategi agar komoditas kelapa di daerah mereka bisa memiliki nilai jual lebih tinggi.

Diskusi berkembang tak hanya pada aspek teknis budidaya, tetapi juga menyentuh persoalan pasar dan keberlanjutan usaha.

Antusiasme peserta menunjukkan bahwa kebutuhan terhadap informasi komoditas kelapa tidak lagi sebatas soal peningkatan produksi.

Petani juga mulai melihat pentingnya pengolahan hasil, diversifikasi produk, dan penguatan rantai usaha dari kebun hingga pasar. Karena itu, forum seperti Temu Teknologi Kelapa dinilai penting untuk menjembatani kebutuhan petani terhadap pengetahuan teknis sekaligus wawasan bisnis.

Kegiatan ini juga sejalan dengan semangat besar PENAS XVII yang tak sekadar menjadi ajang seremonial, tetapi ruang bertemunya petani, penyuluh, akademisi, pelaku usaha, dan pemerintah dalam membangun pertanian yang lebih maju.

Melalui gelar teknologi, pameran, serta temu-temu teknis seperti ini, peserta didorong untuk mengenal inovasi baru yang bisa diterapkan di daerah masing-masing.

Bagi Kementerian Pertanian, pengembangan komoditas perkebunan seperti kelapa tak cukup hanya berfokus pada produksi. Penguatan perbenihan, penerapan teknologi budidaya, serta hilirisasi menjadi bagian penting dalam upaya meningkatkan kesejahteraan petani.

Pendekatan dari hulu hingga hilir itulah yang kini terus didorong agar komoditas perkebunan memiliki nilai tambah ekonomi yang lebih besar.

Temu Teknologi Kelapa di PENAS XVII Gorontalo menjadi salah satu contoh bagaimana forum berbagi pengetahuan bisa menjawab kebutuhan petani secara langsung.

Lewat kegiatan ini, peserta tak hanya mendapat pemahaman soal cara mengelola kebun kelapa dengan baik, tetapi juga melihat peluang usaha yang bisa dikembangkan dari produk turunannya.

Dengan tingginya partisipasi peserta, Temu Teknologi Kelapa menegaskan bahwa komoditas kelapa masih memiliki peran penting dalam sektor perkebunan nasional.

Lebih dari itu, kegiatan ini menunjukkan bahwa penguatan budidaya dan hilirisasi harus berjalan beriringan agar petani tidak hanya menghasilkan panen, tetapi juga mampu menciptakan nilai tambah dari komoditas yang mereka usahakan.(AgW)

Redaksi dan Informasi pemasangan iklan

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *