Pilar Pertanian

Berita Pertanian Aktual

07 July 2022

Siapkan Pertanian Berkelanjutaan, Petani Milenial DIY Tingkatkan Sekolah Lapang

Siapkan Pertanian Berkelanjutaan, Petani Milenial DIY Tingkatkan Sekolah Lapang
07 July 2022

Siapkan Pertanian Berkelanjutaan, Petani Milenial DIY Tingkatkan Sekolah Lapang

Pilarpertanian - YOGYAKARTA – Pertanian berkelanjutan dan ramah lingkungan menjadi salah satu target pembangunan pertanian Indonesia. Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) mengatakan, saat ini pertanian menghadapi tantangan besar dengan perubahan iklim saat ini. Untuk menghadapi perubahan iklim, kemampuan petani harus ditingkatkan. Petani dan semua pelaku pertanian pun harus bisa beradaptasi dengan tantangan alam tersebut.

“Dengan perubahan iklim yang ada, kita dihadapkan pada situasi bagaimana membuat pertanian ramah lingkungan dan cara kita beradaptasi dengan tantangan alam,” ungkap SYL.

Sementara itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSMP), Dedi Nursymasi menambahkan, ketahanan pangan saat ini tidak hanya terkendala oleh karena adanya perang antar negara namun climate change yang ditandai dengan meningkatnya suhu permukaan bumi yang berpengaruh secara signifikan terhadap seluruh ekosistem yang ada termasuk ekosistem pertanian.

“Solusi dari pemanasan global dan cuaca ekstrim adalah pertanian ramah lingkungan dan pertanian bersahabat. Konsep pertanian yang betul-betul memperhatikan penyebab pemanasan global harus kita segera terapkan,” tambah Dedi.

Menghadapi tantangan tersebut Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Yogyakarta Magelang, menggelar Sekolah Lapang dengan materi Budidaya Tanaman Cabai Ramah Lingkungan bagi Petani di Kabupaten Bantul, D.I. Yogyakarta.

Dipandu oleh Rais Sulistiyo, Tenaga Ahli Laboratorium Pengamatan Hama dan Penyakit Tanaman Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) D.I. Yogyakarta, petani diberikan materi klasikal dan praktek pengamatan langsung. Menurut Rais, hama dan penyakit yang paling umum ditemukan di pertanaman cabai antara lain fusarium, layu bakteri, antracnose, thrips, nematode, dan geminivirus.

“Hama dan penyakit di pertanaman cabai ini biasanya disebabkan oleh bakteri dan virus, tentunya akan berbeda penangannya,” ujar Rais.

Untuk menentukan cara penanganan, sambung Rais, terlebih dahulu harus diidentifikasi penyebabnya. Salah satu pengamatan adalah membedakan layu yang disebabkan jamur fusarium dengan layu karena nematode.

“Layu karena nematode disertai dengan puru akar atau benjolan pada akar, sedangkan layu fusarium tidak terdapat puru,” sambungnya.

Pegendalian Hama dan Penyakit Tanaman (HPT) menjadi hal yang krusial karena sangat mempengaruhi produktivitas tanaman. Rais merekomendasikan, selain pengendalian secara kimiawi petani juga dapat mengendalikan HPT secara berkelanjutan.

“Pemanfaatan agensia hayati sebagai solusi pengendalian OPT yang ramah lingkungan yang juga bagian dari konsep pertanian secara berkelanjutan atau sustainable agriculture,” imbuh Rais.

Selain itu, Peserta SL juga diberi pengetahuan mengenai budidaya ramah lingkungan, salah satunya adalah penggunaan pembenah tanah dan penambahan bahan organic yang mencukupi kebutuhan tanah.

“Kebutuhan bahan organik per hektar adalah 20 ton. Pembenah tanah secara hayati yang perlu ditambahkan ke dalam tanah adalah trichoderma, asam humat, dan silica karbon,” terangnya.

Elea Nur Azizah, salah satu Penanggung Jawab Kegiatan SL dari Polbangtan Yogyakarta Magelang berharap melalui kegiatan SL ini, pengetahuan dan kapasitas Petani dapat semakin bertambah.

“Materi Sekolah Lapang ini kami persiapkan dengan lengkap mulai dari persiapan lahan hingga nanti panen dan penanganan pasca panen. Kami harap petani dapat menambah wawasan dan pengetahuannya dan bisa menularkan kepada petani lain di lingkungannya,” tandas Elea.HG

Redaksi dan Informasi pemasangan iklan

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *